Showing posts with label attitude act. Show all posts
Showing posts with label attitude act. Show all posts

Monday, 22 October 2012

SUMMARY: TINKER, TAILOR, TRY

Not many things work perfectly the first time--new product development is a labyrinth of wrong routes and dead ends.

And, yes! Ideas need noodling and tinkering and fiddling to become workable.

So, let's move to nurture the good idea. Spend a little, not a lot.

Tinker with the concept. And then, tailor it to better fill the needs of the target audience.

And most importantly, try something. Try this, try that. Do: something make an ad concept, build a prototype, give out samples.

Then tinker some more, tailor it a bit, and try again.

But (let say) If it's a bad idea, what will be happen? (well) you'll know it. Drop it. If it's a good idea, you'll now be able to sell it to the corporation.

(keep this your number one highlighted) Note to self: Don't talk, don't have meetings, don't write memos. Before you get know whether it's a bad or it's a good idea. You will know.

-m

Wednesday, 17 October 2012

TOUCH DOWN: EKSOTIKA PULAU MUTIARA

Harum biru laut mengelilingi ke mana pun tapak kaki melangkah. Meraba cantik nuansa tenang pulau Pinang, ditemani atmosfer sejarah yang tak pernah hilang. 


BERVAKANSI KE SATU NEGERI di pantai Barat Laut seme­ nanjung Malaya, benar, terasa hangat. Dari Ja­karta, ke tempat ini hanya membutuhkan waktu 2,5 jam lewat jalur udara. Hingga sekarang, masih Air Asia—satu-­satunya—yang menawarkan jad­wal terbang langsung dari Jakarta menuju Penang. Bukan sebuah berita bila warga penjuru du­nia sering singgah ke Penang, demi kepentingan mendapat medical treatment terbaik. Sederet ru­mah sakit dengan teknologi terkini, para dokter dan profesor terkemuka, pelayanan bersahabat, serta ekonomis? Semua tersedia. Mereka hadir untuk menjawab “kekhawatiran” bagi mereka yang membutuhkan sehat. Menjadikan pulau ini sebagai tempat “penyembuhan” ideal, termasuk bagi masyarakat Indonesia. 

Kita mengenalnya dengan sebutan Pulau Pi­nang atau Penang dan dalam bahasa Melayu lama disebut: Isle of the Betel Nut. Penduduk setempat mengakui; Pulang Pinang Pulau Mutiara, karena kelembutan warna laut dan pasir putihnya yang mendandani pantai. Namun, bagi saya, tidak hanya kemajuan dunia medisnya yang menjadi alasan untuk bertandang. Tempat ini adalah saksi sejarah yang teramat utuh. Rasanya, tak ada yang lebih indah selain menyaksikan bangunan­-bangunan otentik nan kokoh ­­telah berdiri sejak 1700­ an. Inilah wajah asli Penang. Pemerintah setempat melarang keras penduduk lokal untuk mengubah konstruksinya. Meskipun demikian, warga diper­silakan mengecat ulang warna­-warna dinding yang mulai pudar, membetulkan jendela maupun pintu agar kuat kembali atau membenarkan pon­dasi yang tentu saja sudah rapuh. 

Lebih dari satu abad, kolonial Inggris me­nguasai negeri ini hingga tahun 1957. Jadi, bisa dibayangkan gedung­-gedung tinggi menjulang ala British memenuhi pandangan mata saya ketika itu. Salah satunya tampak jelas di daerah terpopuler, tertua, sekaligus Ibu Kota negeri Pulau Pinang, Georgetown. Dahulu, kota ini pernah dipimpin oleh seorang raja muda Ing­gris bernama Raja George III. Titel Georgetown, dihadiahkan sebagai bentuk penghormatan terhadapnya. Bisa dibilang, nyawa sejarah dan hiruk pikuk politik ada di sana. Gedung­-ge­dung berumur ratusan tahun masih tertata rapi menghiasi sudut kota. Be­cak­-becak klasik melaju riang, siap mengantar “tuan” bepergian. Bagi kita yang jatuh cinta pada budaya Cina dan India, hasrat tersimpan ini akan cukup terpuaskan dengan menemukan ba­nyak candi-­candi peribadatan yang sa­ngat terkenal lewat ukiran­-ukiran pe­nuh cerita di setiap dindingnya. 

Cerita murni keluarga Cina Nyonya Baba pada abad 19, melengkapi ruang nyata akan warisan-­warisan leluhur pada masa itu. Di kota Penang, para kaum elit, seperti Ratu Elizabeth II pernah tertulis sebagai penduduk setia semasa usia 31. Itulah sebab, Penang dijadikan kota federasi pertama dari Malaysia (setelah Singapura) sebagai jantung kota yang sibuk. Aktif dan se­mangat hingga sekarang. Berkat pesona arsitektur dan kisah abadi tersebut, UNESCO mengukuhkan Georgetown ke dalam World Heritage Site pada ta­hun 2008. Semenjak itulah, gedung­-gedung tinggi nan megah dilarang keras memadati kawasan ini. Saya dibuat takjub akan ketegasan mereka. 


BAYANGKAN SEBUAH TELAGA RAKSASA. Menye­ruak di balik kedamaian suasana yang seksi. Begitulah perasaan saya ketika tiba—bersama sejumlah kolega dekat—di Penang International Airport yang terletak di Bayan Lepas. Ke mana pun kaki saya melangkah, pemandangan laut selalu terbentang indah menye­limuti area seluas 10.463 km persegi ini. Lewat sedikit penggalian internet tentang Pulau Pinang—sebelumnya— membawa saya pada ilustrasi negeri khayangan. Indah. Benar­-benar bak mutiara di tengah laut. 

Persis seper­ti imajinasi saya, dalam perjalanan menuju hotel, terlihat samar Penang Bridge yang berdiri tegap di atas laut. Jembatan yang dibangun sejak 1985 tersebut menghubungkan Pulau Pinang dengan mainland—sebutan un­tuk negara bagian Malaysia lainnya. Ia memiliki tiga jalur sepanjang 13,5 kilo­ meter yang ditopang dua pondasi kuat. Melihatnya, mata seperti tak ingin lepas memandang, kepala pun—seiring kendaraan bergerak—ikut berputar tak beralih. Inilah jembatan terpanjang di Asia dan saya sedang menatapnya.

Memasuki setengah perjalanan, tertulis besar­-besar “Dua kilometer menuju Hard Rock Hotel Penang” pa­da sebuah baliho besar di pinggir jalan. Senang! Karena artinya kami akan segera ti­ba di salah satu tempat penginapan terbaik di sana. Tapi, sesampai di sana, saya dan beberapa teman, tak ingin berlama-­lama lagi. Segera kami meluncur menjawab rasa penasaran lainnya tentang negeri Penang. 

Se­lanjutnya, kami dibuat terpana mene­lusuri kawasan Air Itam, di mana satu tatanan kota menjelma di baliknya. Di sana, kuil Budha terbesar se­Asia Tenggara, Kek Lok Si Temple, sejak 1890 masih teronggok mantap dengan megahnya. Hari belumlah malam, saat kaki ini dengan manisnya menapak santai, hingga ke lantai atas. Saya dapat melihat jelas seluruh isi kota Air Itam dari puncak sana. Sejuk, awan-­awan putih menari pelan memamerkan ke­damaian. Pada Tahun Baru Cina, kuil ini akan dipenuhi oleh ribuan cahaya, menjelma menjadi tempat yang amat menyenangkan di mana ribuan orang bersembahyang di bawahnya. 

SAMBIL MENUNGGU SORE yang semakin menghampiri, di sini, di Air Itam, ber­naung melegenda sebuah gedung pen­didikan terkenal dari Cina: Chung Ling High School. Saya sempat mendengar sekolah hebat tersebut dari seorang teman yang bekerja di Penang Global Tourism. Berkali­-kali ia mengatakan Sekolah Menengah yang digagas pada 1917 ini, dideklarasikan sebagai seko­lah terbaik di Negara Malaysia. Hanya siswa dengan nilai A sempurna yang boleh mendaftar. Program studi pra­ universitas telah menjadi salah satu pelajaran andal milik Chung Ling. Kursus ini dimulai pertama kali pada 16 Januari 1967 dan hanya ada lima perempuan yang berhasil diterima dari total 36 siswa yang didaftarkan.

Dengan berlakunya kebijakan 60­ 40 oleh pemerintah setempat, men­dorong lebih dari 90% siswa agar mendalami studi Science Stream- ing daripada Art Streaming. Sosok­-sosok mendunia seperti Khaw Boon Wan, Menteri Kesehatan Singapura dan Ming Tatt Cheah, immunologist terkemuka di Universitas Standford, California, lahir dari sekolah ini. Pada 1942, sekolah tersebut sempat mengalami renovasi berulang kali, akibat gemparnya Perang Dunia II, saat di mana Negeri Penang jatuh ke tangan Jepang. Kala itu, operasi Sook Ching— pembantaian massal—dengan biadab menyiksa 10 guru lokal dan lebih dari 40 siswa menjadi korban kebrutalan mereka. Tragis, namun mereka bangkit segera, sesaat setelah Inggris meng­ambil alih kekuasaan—kembali—tahun 1945. Seiring proses waktu berjalan, Chung Ling tumbuh menjalankan visi dan misi mulia seperti semula. Mem­perbaiki konstruksi gedung dan resmi “utuh” pada tahun 2002.

 Kenyang akan mendengar kisah­ kisah nyata di belakang Sekolah Mene­ngah Chung Ling, tak terasa, perut ko­song saya mulai “berteriak”. Kami pun bertanya-­tanya makanan khas kota Air Itam apa yang terkenal? Jawabannya Laksa, maka­nan berjenis mi yang dihiasi bumbu kental ala budaya Peranakan; gabung­an antara suku Tionghoa dan Melayu. Meskipun, termasuk makanan mem­bumi asal Pulau Pinang. Namun, se­mangkuk laksa di persimpangan jalan Kek Lok Si Temple berada, menawar­kan rasa ‘berbeda’ dari laksa lain­nya. Bentuk mi yang bulat putih dan sedikit tebal, memanjakan lidah lewat siraman dua variasi rasa berbeda: asam sangat tajam atau dimasak menggu­nakan banyak susu kelapa. Ketika ma­tahari hampir tenggelam, aroma kuah laksa yang kuat dapat membangkitkan semangat kembali berkibar. ”Mari me­lanjutkan “penggalian”!” seru saya ke­ pada seorang teman seperjalanan.  

PENGHUNI TETAP NEGERI INI merupakan cam­puran unik dari darah Cina, Melayu, India, dan Siamese. Dari situ, garis budaya pun melebur beragam men­jadi komunitas Peranakan. Kelompok pertumbuhan yang terkenal hingga se­karang terbagi menjadi; Nyonya Baba— orang Melayu lebih suka menyebutnya demikian dibandingkan panggilan Ba­ba Nyonya—Jawi Peranakan (Melayu muslim yang menikah dengan India atau suku Cina, lalu men­ jadi muslim), dan Eurasians (perpaduan Eropa dan Asia). Menghadirkan kesemarakan yang tentu menurun ke wisa­ta kuliner dengan aneka rasa bak urutan alphabet. Dari A hingga Z, berbaur lezat ma­cam-macam aroma Asia. Sedikit asam, kadang manis mengejutkan, dan yang ter­ penting otentik.


Tak puas hanya laksa, kami pun berpindah menuju tempat makan sebenarnya. Udara sejuk malam di Pusat Penjaja Anjung Gurney (dekat Plaza Gurney berlokasi), membangkitkan selera kami untuk sekali lagi mengu­nyah menikmati makanan khas Per­anakan yang menggelitik rasa lapar saat itu. Pasembur, sekilas tampak mirip dengan rujak. Di Penang, pasem­bur dikenal sebagai adonan yang da­tang dari “tangan” suku India. Berisi bermacam adonan gorengan, dadih kacang, kentang yang direbus, udang goreng, telur rebus, tauge, cumi­-cumi, dan mentimun. Saya pun langsung me­motret wujudnya dengan cepat, meng­abadikan agar bisa dipamerkan sepu­lang ke tanah air nanti. Wisata kuliner yang satu ini memang sejenis makanan “aduk­aduk” nan gurih. Dibalur cam­puran saus kacang pedas dan manis, mengubahnya menjadi warna cokelat pekat yang sangat menggugah selera. Di sinilah letak citra rasa warna­-warni sajian Pulau Pinang yang “aneh”. Sung­guh hidangan ringan asyik untuk dici­cipi beramai­-ramai. Benar, rasa asam dan manis pun menyatu. Lucu sekali.

Siapa yang tidak tergoda, menik­mati wangi laut, sambil menyantap makanan klasik tanpa pertimbangan? Sepuas menyelesaikan sisa pekerjaan tertunda, sepuas itu pula jiwa raga kami menghabiskan malam seusai mengisi penuh kekosongan perut. Bincang­ bincang renyah di antara kami pun tak berkesudahan. Sembari menanti malam melarut, kami menunggu kan­tuk di tepi pantai. Hingga waktu tiba mengembalikan kami ke tempat tidur yang didambakan. Memasuki ruangmimpi sambil tersenyum, karena pe­ngalaman—setengah perjalanan—Ne­geri Penang yang begitu berkesan.

Mengenal dan membiarkan diri terbasuh budaya lebih dekat, seperti mengalami pengetahuan yang tak ter­bayarkan nikmatnya. Saya haus akan silsilah yang tersimpan di balik Asia. Membuatnya begitu “langka” dan tak kalah tanding, jika disejajarkan dengan negara­negara Barat. Apa yang lebih in­dah, selain berkumpul bersama orang terdekat, menyaksikan dan merasakan momen­momen “romantis” ala kita? Singgah ke Pulau Pinang, merupakan piknik surgawi yang menjunjung tinggi ketenangan dan orisinalitas. Ingin me­lakukan perjalanan singkat dan memu­tuskan mengambil penerbangan paling pagi dan kembali di malam hari? Sa­ngat bisa dilakukan! Ambil waktu libur untuk menimba semangat dan meng­apresiasi hidup lebih dalam lagi. 

____________
This article was published in More Indonesia magazine, February 2011.
Writer: Miranti Sudrajat
Art Director: Astri Lusiana
Photo: Dok. More Indonesia

















































Enjoy,
-m

BERBAGI CERITA DI DAILYSYLVIA.COM, YOUR NEW E-MAGAZINE, YOUR CUP OF JOY!


Garage Sale yang saya kerjakan sejak tahun 2008, tampaknya membuat sejumlah orang tertarik. Salah satunya dailysylvia.com. E-magazine yang terbilang baru ini, melirik saya di satu sore dan bertanya apakah saya bersedia berbagi cerita seputar hobi sekaligus mata pencaharian yang menyenangkan ini. Setelah menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh sang penulis, inilah artikel mereka tentang kegiatan itu. Terima kasih dailysylvia.com.

Selamat membaca.























































































Temukan berbagai berita, artikel, atau catatan inspirasi lainnnya di dailysylvia.com.

Enjoy your day!
-m

Wednesday, 3 October 2012

PHOTOSHOOT: THIS IS WHAT YOU NEED TO KNOW

























Untuk melakukan sebuah photoshoot setidaknya Anda membutuhkan tim yang mengerti dengan peran masing-masing; writer, art director, photographer, dan kru.

Sebagai writer sekaligus pemilik artikel food berjumlah delapan halaman spread ini (for instance), harus datang dengan tema yang besar. Baru setelah itu 'memperkecilnya' ke dalam pointer yang menunjang tema secara keseluruhan. Di sesi proyek photoshoot terakhir semasa saya masih bekerja sebagai Feature Writer di More Indonesia magazine, edisi Mei 2012, saya berangkat dari tema "Healthy Breakfast" yang kemudian di approved menjadi sebuah tema besar yang dikemas secara unik. Saya menyertakan satu buah lagu ke dalam tiap-tiap menu breakfast. Cara baru menyantap makanan pagi Anda. Menyantap sambil mendengarkan musik.

Sebelum mengeksekusi konsep. Bumbu mentah yang terdiri dari hanya tema ini kemudian dikembangkan melalui mind mapping. Mind mapping merupakan cara kreatif yang biasa dilakukan oleh copywriter untuk mengembangkan ide dan menemukan kata-kata tersembunyi di balik tema besar. Once you satisfied, you will stopped.

Saya lalu muncul dengan negara Prancis, yang banyak membuahkan asumsi bahwa negara ini menyimpan 1001 resep sehat. Kira-kira resto bergaya Prancis mana yang bisa saya ajak kerjasama untuk melakukan photoshoot ini di Jakarta? Madeleine Bistro milik Eileen Rachman memenuhi semua kriteria yang kami butuhkan; menu dan atmosfer.

Selanjutnya, set jadwal lokasi, chef, dan menu pilihan. Untuk mewujudkan itu semua, Anda cukup menghubungi Public Relation atau orang marketing dari resto tersebut. Jika perlu, datang dan berkunjunglah ke lokasi. Seperti yang saya lakukan untuk mengecek layout tempat dan memilih langsung sejumlah menu sarapan pagi yang sehat ala Prancis. Anda juga bisa berdiskusi dengan PR dan minta rekomendasinya untuk memmbantu memilihkan menu best seller. Take the note: stick with the concept.

Photoshoot ini dieksekusi ke dalam 8 halaman spread. Artinya 1 halaman opener (pengantar penulis berserta foto), 5 halaman berisi 5 menu, dan 2 halaman terakhir untuk daftar resep dan cara membuat. Gunakan bahasa dan cara penyampaian yang mudah dimengerti oleh pembaca Anda.

Saya terbiasa membuat sketsa kemudian menyiapkan mood board, sebelum akhirnya berdiskusi dengan art director. Saya menggambar 8 halaman spread dengan pensil dan menentukan secara rough (kasar) mengenai tata letak artikel secara menyeluruh, termasuk jumlah tulisan, letak foto, letak judul BEsar-kecil foto, dan keterangan. Sertakan referensi artikel serupa sebagai bayangan diskusi. Seorang art akan merasa lebih mudah jika diberi sisipan visual.

Untuk mood board, saya cukup mengumpulkan 10-15 foto makanan yang diambil dari berbagai sumber. Ini akan mempermudah pekerjaan photographer dalam pengambilan gambar. Mood Board artinya menyampaikan mood dan tone color dari pengambilan foto; termasuk warna lighting, angle, dan layout.

Dalam proses pematangan konsep, art director akan memberi pandangan-pandangan visualnya yang kadang tidak bisa dijangkau oleh seorang penulis. Inilah mengapa kerjasama tim sangat dibutuhkan di awal. Selanjutnya, writer dan art director berdiskusi dengan photographer tentang konsep yang sudah lengkap. Sudah menjadi peran photographer untuk merealisasikan kebutuhan artikel sesuai konsep. Tentu dengan dengan berbagai masukan dan improvisasi darinya.

Sebelum pemotretan, saya akan menyiapkan sejumlah kebutuhan foto. Dalam hal ini; peralatan makan dan alat-alat penunjang untuk properti foto. Seperti piring dan mangkuk dalam berbagai model dan ukuran, serbet dan taplak beragam warna, serta talenan kayu yang stylish. Saya juga berbelanja bumbu-bumbu masak. Kembali ke konsep. Sarapan pagi sangat erat dengan telur, roti, susu, sayur, dan keju, sehingga, daftar seperti inilah yang akan membantu foto-foto Anda semakin berwarna dan mencapai konsep utama. Sekaligus bisa menjadi 'bahan' satu halaman opener yang Anda butuhkan. Jika 'sedikit' bingung, cukup intip isi resep dari menu makanan yang akan dipotret. Take the note: remember to always refers to the big theme.

Properti foto merupakan elemen penting yang harus dipikirkan setelah Anda membentuk konsep. Saya terbiasa dengan "tidak mengandalkan satu sisi saja", artinya, meski (mungkin) Madeleine Bistro sudah memiliki dan menyediakan semua kebutuhan, sebisa mungkin saya menyiapkan sendiri. Dengan begitu saya tidak merasa kekurangan saat perlu 'penghias' tambahan.

Terakhir, berkerjasamalah! At the end of the day, this article not made by yourself, but made by a team. A good teamwork! Setiap profesi memiliki peran masing-masing, but as a writer you have a capability to deliver the whole thought, the whole concept and make it real! And Here I share you the eight spread-food article that I told. Let's hear from your side!

Published in More Indonesia magazine, May 2012, Healthy Breakfast on "Rise & Shine".
Writer: Miranti Sudrajat
Art Director: Astri Lusiana
Photographer: Rynol Sarmond
Total pages: 8 Pages










-m

Sunday, 8 April 2012

Crossing The Street

image by Getty Images


I really don't understand with today-attitude of people.

While am with a bunch of friends, walking along a street to find our dinner. Yet we need to cross, the place is in the opposite of our rows. Well, anyway, our crossing's style it's actually not in a proper way to do. There is no allowing-cross sign. It's definitely false. Yet we still crossed. But I know one thing, while am crossing I need to slow down and see the both side, left and right. So whenever the green light are ready and told me to go, then I will run as fast as I can. Though the street are empty and no cars in the distance.

But, my friends, while my legs are keep running, they was like in a laid-back style, walk easy, and very slow. I swing my hand and grab his, I say "Come on, buddy, we should run." and he said "Why rush, there are no cars crossing us." At that moment, I thought is it me, act like am paranoid, or is it them who underestimate the risks? He must be crazy, then.

I against those kinda thought. I think when we try to do something that shouldn't we do, then we must be doubly careful than usual. Specially when it talks about facing dangers and someone's life. We don't want to put people in trouble for what we do. You may not only endanger yourself but also others.

-m

Saturday, 11 February 2012

Not That Bad

attitude act:

Delapan bulan perpisahan membentuk kami menjadi pribadi tangguh.
Menciptakan satu identitas baru yang berkualitas. Dan yang terpenting membuat kami belajar untuk lebih menghargai arti hidup.

Thursday, 26 January 2012

Salam dari Ujung Timur

Attitude act:

"Malam ini Jakarta riuh sendu. Hujan, baru saja turun membasahi jalanan-jalanan yang penuh sesak oleh debu. Aku pun sudah duduk tenang di rumah, menghirup secangkir teh hangat dan menikmati sebatang rokok kretek favorit. Entah apa yang membuatku tak ingin berlama-lama di luar sana. Letih, lelah, bega, dan penat. Aku hanya ingin pulang, rebah dengan tenang, lalu menyenandungkan kata sambil riang." kataku lepas.

Selamat menikmati gulita.

Tuesday, 18 October 2011

[gratitude of the day] I found it Swinging

Let's the melody swinging for you....
I just found this song, and it's reminds me to how life is beautiful. And how sweet it can be, when once you open wide, there is a time you can always gratitude. And here is the song that can make you relax and appreciate things. Thing that the small one can really make a big dream! Come, seat, smile and listen the song along with me. Then you will realize.


Till There Was You
Original song by Meredith Willson
Sing by The Beatles

There were bells on a hill
But I never heard them ringing
No I never heard them at all
Till there was you

There were birds in the sky
But I never saw them winging
No I never saw them at all
Till there was you

Then there was music and wonderful roses
They tell me in sweet fragrant meadows of dawn and dew

There was love all around
But I never heard it singing
No I never heard it at all
Till there was you

Then there was music and wonderful roses
They tell me in sweet fragrant meadows of dawn and dew

There was love all around
But I never heard it singing
No I never heard it at all
Till there was you Till there was you

--
Now, check your old collection and surprised yourself.


Happy life, everyone.
-m

Tuesday, 11 October 2011

The Point When Alert

There are so many things happening lately. It really is confusing. Things that undermine the content of the brain until I was at alert stage. Things that are damaging and potentially destroying the focal point. I will not let it happen. No one can destroy what I have painstakingly correct. I will not let people rob what I dreamed.

One can only assume, leaving the impression, judging and assume that their true self. People should know that there is a truth behind the truth. People should realize and understand the balancing of "mind". We can not always please people. And I'm learning, you win some, you lose some. And sometimes how beautiful the pros and cons of it are present in the midst of an argument.

People seem to start removing an important process - discussions. We need to discuss and review issues carefully until the results of saying "this is perfect". Until the time we closed and lay the body, we fell asleep happy, because we do a method called thinking. I guess I'll fight it right this time. There is no worse enemy than silence when discontent sets in. I'm not going to shut down and false my mouth again. We have a voice and way of thinking that deserves to be heard. All are free to have opinions. And if it's like a high wall began to collapse, I'll hold it back before it was collapsed. No one else could make me go back to thinking the worst in life. I will conduct stringent protection against heart and mind. Now is the time to go forward - looking back and looking further without stopping. Without a point.

Straight your mind.
-m

Friday, 7 October 2011

Sepenggal Kisah Anda

Anda sepenggal kisah, seandainya saja perempuan itu tak terus bicara dan bertanya "kapan Anda kembali ke kedai ini?" Saya yakin, si Anda tak akan pernah tahu apa yang dipikirkan oleh perempuan itu.
Dan saat mereka bertemu, saat Anda tetap tak tahu, itu pun akan menjadi satu adegan yang sudah cukup. Sekarang, Anda tahu, dan perempuan itu pun mulai gugup.

Selamat tersenyum...
-m

Sunday, 2 October 2011

Yummy-health

Selamat datang Oktober...

Beberapa waktu lalu, saya diundang oleh Gerakan Sayangi Jantungmu (@sayangijantung) yang sekarang ini sedang dikobar-kobarkan oleh Quaker Oat. Anda tentu pernah melihat iklan TV yang memunculkan sejumlah orang dari berbagai usia bersama tagline "saya berisiko!". Siapapun berisiko untuk menderita penyakit jantung--salah satu penyakit kronis yang jumlah penderitanya semakin meningkat. Bahkan menyerang mereka yang masih berada di usia produktif. Sayang, ya? 

Dalam serangkaian acara yang mereka gelar bertepatan dengan Hari Jantung Sedunia, Chef Winnie berbagi resep keluarga yang bukan main lezat. Winnie adalah perempuan biasa seperti kita yang punya cerita di balik resepnya. Meskipun Ayah Winnie di usia muda adalah seorang atlet PON; berolahrga dan menjalankan pola hidup sehat, namun di usia 50 dokter menyatakan bahwa laki-laki yang kini berusia 72 tahun harus menderita penyakit jantung. Awalnya, sang ayah tidak terima. Tapi pengalaman 3x operasi baypass--sudah--cukup membuatnya trauma. Dan mau tidak mau ia harus berdiet seumur hidup.

Winnie sempat bercerita, anaknya yang berumur 7 tahun sangat suka dengan makanan manis. Sementara sang kakek harus dijauhi dari menu-menu gula. Awalnya, Winnie membeli dua kulkas. Satu untuk kakek, satu lagi untuk anaknya. Tapi apa yang terjadi? Begitu tengah malam, suara kaki-kaki mengendap menyusup ke kulkas anak berumur 7 tahun. Sang kakek diam-diam mencuri makanan yang tak seharusnya ia konsumsi. Ketika mendengar itu, spontan saya tertawa lepas. Lucu. Winnie geleng-geleng. Ia memutar otak untuk bisa membuat resep yang sesuai dengan selera kedua "anak kecil" ini. Quaker Apple Cinnamon yang dibuat khusus agar ayah dan anaknya bisa menikmati makanan enak dan sehat merupakan satu dari sekian banyak menu berbahan dasar oat yang pernah Winnie ciptakan. Sekarang kita bisa mencobanya di dapur rumah. 

Saat Winnie membagikan makanan ini dalam porsi kecil kepada kami di acara itu, dengan segera saya memotret lalu mengunduhnya ke akun twitter. Seorang teman membalas dan meminta agar saya membagikan resepnya. Jadilah saya menulis di sini. Resep ini tidak hanya untuk seorang teman yang telah meminta langsung di twitter, tapi untuk Anda semua yang ingin merasakan serunya menjalani hidup sehat, atau mungkin sesuatu yang baru. Tidak ada bahan-bahan manis dalam pembuatannya. Yang ada hanya aroma kayu manis yang Anda masukan bersama oat dan apel. Rasa manis itu sendiri secara natural akan datang dari si buah apel. Ini karena oat tidak memiliki rasa. Sehingga oat akan mengikuti bahan lain yang dicampur bersamanya. Cita rasa apel dengan bahan dasar oat berpadu aroma kayu manis? oh, ini sangat menggoda. Yummy. Selamat memasak!

/ Food for Your Heart /

Quaker Apple Cinnamon 
Bahan:
75 gr Quaker Instant Oatmeal
600 ml air
½ sdm mentega (unsalted)
2 batang kayu manis
2 buah apel fuji atau apel merah (potong dadu kecil bersama kulitnya)

Cara membuat:
1. Oleskan mentega pada lapisan dasar panci.
2. Masukan Quaker Instant Oatmeal dalam panci bersama air (api tidak terlalu besar). Aduk rata.
3. Tambahkan apel-apel dadu dan kayu manis. Aduk rata.
4. Masak hingga aromanya mulai terasa.
5. Sajikan selagi hangat untuk dua orang.



Happy eating, everyone. Enjoy your moment.
-m

Quaker Apple Cinnamon (porsi kecil)

Tuesday, 6 September 2011

THE LAST LAIDBACK DAYS

 
photograph by Nittiofyran

Sejak lebaran lalu, saya terlalu berani mengambil cuti panjang. Empat hari termasuk dua hari libur--Sabtu dan Minggu, total berjumlah enam hari leha-leha. Bukan berarti saya tidak beraktivitas. I was working during holiday, I can't ignore those paper work. Shit. But it's fine and fun. Besides, I love what I do. Don't you think so; we have to love what we do?

Di samping memikirkan ratusan konsep pekerjaan, I was having an extraordinary holiday; with myself, my family, and my buddies. Dua hari setelah hari kemenangan umat muslim tiba, I was taking a fast trip with friends to Bandung. Seperti yang sudah saya duga, kepadatan kota Bandung tak dapat dihindari. Tapi meriah, karena tema 'kebersamaan' membuat perjalanan jadi sangat berkesan.

Saya juga sibuk memaksa diri untuk menikmati indahnya memiliki keluarga. Bukan karena selama ini tak pernah bersyukur, tapi... there's too much pressure to handled in the circle. As a young woman who have differences with the others, means; a woman with heavy smokers, strong attitude, and feminist. You tell me? What my Mom and Dad think about me? And what about the others? My aunt, my Mom's sister, and so on, and so on.  Meskipun demikian, Saya punya beberapa keponakan dan sepupu--yang setidaknya--punya arah dan cara berpikir yang sama. Singkatnya, mereka yang memilih untuk open mind. Namun saya menyadari, sebagai anak perempuan, saya harus bisa lebih mengerti dengan situasi mereka yang lebih 'klasik'. That's why I put aside my ego and begin to face any kind of whatever situations are. Yang saya lakukan tidak banyak dan tidak juga berarti. Hanya menjadi anak perempuan yang lebih sabar, menerima, dan nurut.

Satu hari setelah lebaran, saya berkumpul dengan keluarga besar di acara makan siang. Keesokan harinya, saya kembali hadir di acara makan siang dengan konsep yang sama. Selama dua hari itu, saya menjadi apa yang Ibu inginkan. Berpakaian selayaknya perempuan, pergi tepat waktu, tidak mengeluh dan bersikap baik selama makan siang berlangsung--for God's sake! smile. Well, it was not bad (after all).

Di hari Minggu, saya puaskan diri dengan menikmati kenyamanan rumah. Membuat kolase baru pada dinding meja kerja, ganti karpet kamar dan merapikan semua yang berantakan. Pada dasarnya saya sangat jatuh cinta dengan "beberes". Meletakkan barang pada tempatnya merupakan kesenangan tersendiri yang menyegarkan. I made my own scrap. And this is how I get the quality time with myself. Bermain dengan tujuh kucing Persia milik saya di rumah, nonton film di Cinemax, Star Movies sebanyak mungkin--suka tidak suka. Sesudahnya, saya lega. Ini yang saya lakukan--kurang lebih--dari hari ke hari, hingga kantor memanggil saya untuk kembali--esok hari. Dalam benak, saya akan memanfaatkan setiap menit untuk menikmati apa saja yang kondisi inginkan. Begitu masuk dua hari sebelum kembali bekerja, saya berusaha keras menyelesaikan tugas. Check! Check! Check!.

Dari semua kesenangan selama cuti panjang, pada hari terakhirlah saya benar-benar merasa di puncak bahagia. Dan rasanya penuh syukur dan berkah. Di suatu sore, saya mendadak bosan di rumah. Mendadak jenuh dengan pekerjaan kantor. Maybe it's good time to get massages. Yeah, why not?! Lalu saya mulai berpakaian, menyiapkan dompet dan mengambil kunci mobil. Sesaat setelah pamit dengan Ibu, Ayah sedang di teras depan--sibuk memberi makan ikan-ikan peliharaannya. Ketika itu, ia berpakaian seperti hendak pergi; mengenakan kaos polo, celana pendek, topi dan sepatu santai. I was like curious. Tapi, belum sempat saya bertanya, saya melhat sepeda teronggok di depan teras, seperti siap untuk dipakai bepergian. Di situ saya tahu, Ayah ingin bersepeda.

Yang saya lakukan; saya kembali ke kamar, mengganti pakaian, mengenakan baju santai dan mencari tas berukuran yang lebih kecil untuk tempat dompet dan telepon genggam. Beruntung sekali Ayah punya dua sepeda di rumah. Sehingga saya pun bisa bergabung dengannya. And there I was, afternoon fun: biking with my beloved Dad. Anda tahu apa yang saya rasakan? luar biasa bahagia. Rasanya, lima hari belakangan ini tak berharga sampai ini terjadi. Banyak hal yang saya dapat;  berolahraga, berhasil menitipkan dua baju di tempat laundry (salah satu destinasi bersepeda) dan menjelajahi peta komplek yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Namun, dari semua itu, the most emotional part (can be), that I can spent my quality time with him. Meskipun kami sering berdebat, meski terkadang kami sering bertengkar, but that moment has bring back the all goodness in my life. My true happiness. Bike to joint.

Selama satu jam saya dan Ayah bersepeda. Berkeliling dari satu komplek ke komplek lainnya. Melihat aktivitas warga yang tak pernah saya jamah sebelumnya. This is a fun afternoon that never happened. Saya tidak pernah merasa semeringah ini. Since I fell apart from my four-year relationship, I never do the things that I want to touch and see. The more I think about him, the past and the lowest part in life, the more I think that the things was so right to do. Probably, I can't never have this perspective until I found myself how my life is so beautiful to be true. Terima kasih Ayah, peluk hangat cintaku untukmu.


Hope you can find your quality time just like what I did.


Enjoy your day, everyone.




I am ready to fly now...

Friday, 26 August 2011

It's a Blessed

Begitu bulan Agustus dimulai, hari-hari pun penuh dengan doa. Semua punya cerita di bulan puasa ini (termasuk Anda). Ada yang senang karena bisa mengurangi kebiasaan merokok, ada yang gembira karena jam kantor jadi lebih singkat, ada juga yang bahagia karena bisa kumpul mesra bersama keluarga. Namun, bagi saya, inilah momen paling membahagiakan dalam hidup. Saat kita bisa menguji diri sendiri untuk menjadi lebih baik; sabar dan bersyukur. Apapun kepercayaan Anda (pembaca), kita selalu dianjurkan untuk bisa melakukan dua hal itu, bukan?

Apa, sih, bahagia itu? Bahagia adalah pilihan. Jika menurut Anda berada di rumah seharian adalah bahagia, silakan. Bila bahagia bagi Anda adalah beraktivitas, silakan. Jika bahagia adalah pikiran senang dan tenang, silakan. Kita semua melakukan sesuatu karena pilihan. Selama pikiran Anda positif, maka bahasa tubuh pun akan mengeluarkan hal yang sama. Saya pun sedang memelajari apa dan bagaimana bahagia itu. Walaupun begitu, di bulan penuh berkah ini, saya membahagiakan diri dengan mencoba untuk melihat segala sesuatu dari perspektif baik. Saya mulai menyentil diri untuk lebih peka dengan sekeliling. Mengambil setiap kesempatan yang siapa tahu membawa kita pada keberuntungan dan bahagia itu sendiri. Hanya satu kuncinya; jangan mengumpat.

Setelah seminggu puasa, berbagai macam undangan buka bersama pun datang bertubi-tubi. Mulai dari teman kampus, teman kerja, teman main sehari-hari, hingga teman lama sewaktu di SMA. Saya bahagia. Karena begitu banyak yang ingat keberadaan saya. Dari semua undangan, ada satu yang paling membuat saya antusias. Bagi saya, saat-saat paling menyenangkan adalah masa SMA. Hingga kini, kami masih utuh dan bersahabat. Mereka merupakan teman-teman yang tak dapat diukur dengan apapun. Senang dan sedihnya, terasa sampai ke hati. Gembira dan marahnya benar-benar menyisakan senyum bila diingat. Setiap kali berkumpul, kami terlalu lepas dengan memori. Terpingkal berkali-kali memanggil balik kenangan. Dalam pertemuan, setiap orang punya kisah, setiap orang harus rela menjadi 'bahan' komedian, setiap orang harus bercerita.

Selama hampir 10 tahun kami berteman, kami masih berbagi dan sekali lagi berkumpul. Saya terbiasa memerhatikan sekeliling dengan detil. Menjadi emosional dan peka dengan hal-hal kecil. Ketika meja panjang tempat kami berbuka dihujam dengan tawa dan canda, saya mulai menangkap aura mereka satu per satu. Tak ada yang berubah. Di sekitar mereka, saya masih menjadi Miranti yang dulu. Miranti yang tertawa lepas dan terbahak-bahak. Saat melihat semua sibuk berbincang satu dengan yang lain, saya mulai memperhatikan gelagat. Topik candaan dan pembicaraan pun masih tetap sama; ringan dan lucu. Tapi, begitu tersadar dengan gaya berpakaian mereka (terutama laki-laki), saya mulai mengaku. Menyadari bahwa kami bukan lagi di usia belasan. Ternyata, banyak yang sudah tidak sama. The way they talk, the way they treat each other and mostly the way we put our self in there. Semua beda. Dan yang paling menonjol adalah pembawaan diri. Mereka yang dulunya tak pernah bisa serius, malam itu bersikap bijak. Yang dulunya dikenal menyebalkan, malam itu tampak gagah dan bangga, penuh wibawa. Saya bahagia. Luarbiasa terkesan. Kami berkumpul di level terbaik dalam hidup. Senangnya. Saya ingin hal ini terus berulang, tak pernah lelah untuk saling mengingatkan "kapan kita bertemu lagi?" Mulai hari ini hingga nanti.

Inilah sahabat-sahabat terbaik dalam hidup...

 














(up to down: Denny, Riki dan Manda); Saya berteman dengan Denny sejak di bangku SMP, kemudian bertemu lagi di SMA. Melihat Denny sekarang, tak disangka banyak yang berubah. Ia mengenakan kemeja rapih, tampak pendiam, dan sedikit serius. Saya dan Riki tidak berasal dari sekolah yang sama. Tapi, ia merupakan teman dari teman masa SMA yang kebetulan sering berkumpul (hingga sekarang). Riki adalah laki-laki yang sudah terlihat dewasa sejak saya mengenalnya. Manda, is a womanizer. Dari dulu hingga kini, ia masih Manda yang sama. Very sweet and likes to smile. He's always been kind and treat women wisely.
(up to down; Bobby, Angga, Widi); Saya tidak terlalu mengenal Bobby saat di SMA. But I knew that he was one of the best friends a very enjoyable to hanging out. Gelagatnya lucu selalu  mengundang tawa. Bergeser ke kanan Angga adalah sahabat tak terlupakan dalam hidup. Saya mengenalnya sejak SMP. Since then we became unbreakable. Dari dulu sampai saat ini pun sikap tulusnya tak pernah berubah. Ia laki-laki penyabar dan sangat membantu. As a guy he really understand what is the meaning of friendship. Sementara itu, Widi, teman yang sangat menyenangkan. Perempuan satu ini tak pernah bisa membedakan antara bercanda dan serius. Cara pandangnya lurus dan lugu. Bisa dibilang sangat positif. Hingga malam itu, ia masih Widi yang sama--menggemaskan sekaligus mencemaskan. Anyway, she just got married a couple months ago. So happy for her.

 
(up to down; Eko, Anggay, Dito). Sejak SMA, Eko dikenal paling peduli dengan penampilan. Sangat menjaga image dan teratur. Malam itu saat teman laki-laki sibuk di deretan sekelompok, Eko duduk di antara saya dan Astrid. Selanjutnya, Anggay--partner in crime sejati di bangku SMA. I remember one night, when she picked me up and sneak in the night. We went out just to inhale smoke two or more. It was the best moment to have a neighbor like Anggay. Berputar-putar komplek sambil berbagi cerita tentang apa saja. Nothing else but laugh; Lalu saya bertemu Dito, Izinkan saya memperkenalkan teman main sejak SD, kemudian kami bertemu lagi di dunia SMA. Senang. Back in yesterday, Dito is a womanizer--just like Manda. Pembawaannya sangat menarik. Teman saya satu ini, tak banyak bicara, namun hebat dengan lemparan-lemparannya yang sarkastik. Ia dikenal sebagai pemain bass dari salah satu band Ska terbaik hingga sekarang. Berkat selera musik yang sama, kami seringkali bertemu di lantai-lantai acara Ska. He is a rudeboy and a very tall guy than the others.

 
 
(up and down: Ipunk, Dame, Astrid); Saya bertemu Ipunk di lingkungan SMA. Meski tak terlalu mengenal lebih dalam, namun ia merupakan satu dari sekian anak yang bertahan dari kegelapan obat terlarang. Selesai rehab, Ipunk sempat mengalami struk ringan yang membuatnya sulit bicara normal. Tapi malam itu, is good to see him very happy and chilled. Di meja yang sama, saya duduk bersebrangan dengan Dameria. Potret perempuan di tengah ini akrab disapa Ame. Bagi saya ia cantik dan memiliki jari-jari tangan yang memukau--sungguh lentik. Ame merupakan teman kecil, tetangga sekaligus partner in crime yang baik. Rumahnya hanya beda satu blok dari tempat saya tinggal. Sangat mengharukan kami bisa bertemu lagi di SMA. Astrid duduk persis di sebelah saya. Perempuan yang berhasil menguruskan badannya ini suka sekali bercerita, terlebih-lebih curhat. Di mata saya Astrid adalah sosok autentik yang tak pernah malu untuk bertingkah aneh. Selama di SMA, Astrid merupakan satu dari perempuan yang sangat mudah untuk diajak bersenang-senang




























(up to down: Ramon, Rizki, Hanie); Ramon adalah  salah satu teman terbaik di masa SMA. Kami dekat karena Ramon sempat berpacaran dengan Hanie, sahabat saya sejak SMP. It's funny to see how they grow up. Di dekatnya saya tak pernah merasa sudah 'berusia'. Kami selalu bisa tertawa seperti anak kecil dengan mainan baru. Malam itu, kehadirannya melengkapi suasana. Perempuan paling kanan, I can't speak for her. Karena pertemanan kami sangat emosional. Kami berbagi, berselisih, berdamai, menjalankan satu usaha bersama, dan berbahagia sejak 15 tahun lalu. Hari ini hingga nanti Hanie will be the one of my best woman in my life. Inilah sepenggal kisah di balik perjumpaan langka saya dengan sejumlah teman terbaik.


and how are your best friends?


Happy lebaran pembaca,
-m





Friday, 22 July 2011

Eat, Loose, Release

Selama lebih dari empat tahun saya memiliki seorang sahabat setia. Selama itu, tentu, banyak hal yang kami lakukan bersama, termasuk menunjuk satu tempat makan favorit yang kami kondisikan. Ia memang sedang pergi. Bukan menghilang, namun membenah diri dengan caranya. Sehingga sejumlah ritual, kebiasaan, dan sikap kami pun berubah.

Selepas rapat kerja yang menguras otak dan tenaga di senja tadi, mendadak, membuat saya ingin menyepi, pergi dan melepas rindu--sendirian. Saya rindu, ingin sekali berdiskusi dan berdebat tentang apa saja dengannya, mulai dari politik hingga makanan.

Kemudian, ada energi besar yang menggerakkan hati ke satu tempat makan pinggir jalan di daerah Cikini. Warung kaki lima ini menjual masakan khas Jepang. Meski begitu, santapan Sopongiro tak kalah hebat dengan restauran-restauran di gedung megah. Lalu, saya memarkir, duduk dengan manis dan memesan menu kesukaan (seperti biasa). Penjualnya sendiri mesem-mesem lihat saya datang tanpa sahabat. Saya tersenyum dan berusaha tenang. Kedatangan saya hendak menikmati hidangan, bukan mengenang.

Saya pikir, ini merupakan sikap tepat untuk menghargai dan mengingat-ingat masa kebersamaan. Rindu itu saya bungkus rapi dan diakhiri lipatan pita. Lalu mengirimkannya ke tempat yang benar. Dua lauk dan semangkuk nasi panas, cukup membasuh pikiran saya kembali baik. Dan begitulah cara saya melepas rindu pekat agar tak membawanya pulang tersekat.

Sekarang, saya bisa menyimpan aura positif itu ke alam bawah sadar, dan menyambut pagi dengan luar biasa segar. Lega rasanya. Saya yakin, Anda juga punya segudang cara "pribadi" bagaimana mengembalikan hati dan pikiran seperti semula; tenang dan stabil.


Happy night, everyone.

Monday, 18 July 2011

Instrument of The Day

Daffodil Lament
by: The Cranberries

Holding on that’s what I do
Since I met you
And it won’t be long, would you notice
If I left you
And it’s fine for some
Cause you’re not the one,

All night long, I laid on my pillow
These things are wrong
I can’t sleep here
So lonely, so lonely

I have decided to leave you forever
I have decided to start things from here
Thunder and lightning won’t change
What I’m feeling

And the daffodils look lovely today

Ol in your eyes I can see the disguise
Ol in your eyes I can see the dismay
Has anyone seen lightning
Has anyone looked lovely

And the daffodils looked lovely today
Looked lovely


lovely just like you,
happy evening, everyone!

Friday, 8 July 2011

Kontak Mata si Burung Gereja














Today is a quite strange day to spend... And again I will share all the things that I can share. It's the least I can do for you...

Seperti biasa ritual pagi membangunkan saya untuk melek. Begitu mata terjaga dari alarm yang berbunyi, saya pun berdoa untuk kelancaran hari. Mungkin Anda memiliki ritual yang serupa dengan kebiasaan saya. Apapun itu, berdoa adalah baik, dan yang baik akan menuai hasil yang sama (tak peduli dalam bentuk apa). Lalu, bangunlah saya. Membangkitkan tubuh dari hangatnya tempat tidur bukanlah  pekerjaan yang mudah. Butuh "usaha" besar untuk melakukannya; meneguk segelas air putih dan bergegas membasuh diri. Saya pun siap beraktivitas.

Hari ini saya berangkat lebih pagi dari biasanya. Ada jadwal regular yang harus dituntaskan. Sebagai pekerja tinta, minggu-minggu deadline merupakan momen sakral yang penuh ujian; menjaga mood dan pikiran untuk tetap positif dan sering-seringlah tersenyum. Menjauhkan diri dari zona stress dan kepenatan bukanlah sesuatu yang mudah untuk ditangkis. Jika sudah begitu, saya akan mencari hal-hal lain yang dapat memotivasi saya kembali semangat. Saya yakin Anda memiliki penangkal sendiri untuk memutarkan mood yang jelek menjadi lebih mudah. Yang penting Anda harus tenang dan yakin bahwa semuanya akan berjalan dengan baik.

Pagi ini, semua checklist tercontreng maksimal; mood saya sangat positif, hati saya luarbiasa tenang, dan pikiran saya penuh dengan ide. Sehingga bahasa tubuh pun menjadi lebih enak dipandang. Tapi, itu semua didukung oleh sebuah kejadian di tengah perjalanan menuju ke kantor. Dari rumah, saya harus melewati tiga medan tempur; jalan Pramuka, jembatan layang proklamasi dan sepanjang jalan Imam Bonjol. Macet? Itu sudah pasti. Yang perlu kita jaga adalah kebesaran hati saat menyetir; mengantri, mengalah, menyalakan lampu sign, dan menginjak gas secara perlahan. Saya pun terkadang masih suka emosi ketika melihat sejumlah kendaraan berlaku seperti 'binatang'. Namun, begitulah ujian kita setiap pagi. Saya yakin Anda turut merasakannya.

Satu momen langka yang menimpa saya pagi ini, puji syukur, bukanlah suatu hal yang mengecewakan hati. Rasanya, jawaban doa yang baik dapat berupa apa saja dari Tuhan. Well, I'm not a religious person, but I do pray, and I believed. I bet you have your own mode to express your gratitude. Di tengah perjalanan medan perang yang pertama, berhentilah saya di lampu merah berdurasi panjang di baypas menuju Pramuka. Bila diperhatikan, lebih dari 180 detik saya menunggu tanda jalan kembali menyala di perempatan itu.

Sejenak, saya mengutak-ngatik selular (saya melakukannya hanya dalam keadaan berhenti, and you should do the same thing). Membuka akun twitter dan memperhatikan sederet informasi yang berkicau-kicau tentang berita hari ini. Sangat membuat saya pintar. Dalam seperkian detik, pandangan saya pun terkecoh dengan sejumlah burung gereja yang berterbangan di sebelah kiri mobil. Lebih terharu lagi, ketika salah satu dari mereka hinggap di sudut kiri bawah kaca depan mobil. Tak dipungkiri lagi bagaimana ekspresi saya saat melihat tingkah laku burung mungil yang bertenggek itu. Anda pun dapat menebaknya. Saya tersenyum dengan spontan, menatap, dan terus merekah.

Selama 150 detik saya memandangnya tak henti. Uniknya, burung itu memandang ke arah saya sambil terus mengedip-ngedipkan kedua matanya. Tapi ia memandang saya, aneh rasanya. Entah apa yang ingin ia sampaikan. Dalam pikiran saya--sambil terus memperhatikan gelagatnya--semoga ini merupakan berkah melimpah untuk memulai hari. Hitungan waktu pada lampu merah pun tinggal 30 detik lagi. Mengingatkan saya untuk segera mengabadikan momen tersebut. Selular saya siapkan, klik tombol kamera, dan berhasil-lah saya menangkapnya dalam sebuah frame. Begitu tangan saya melepaskan selular, dalam hitungan detik burung gereja itu sudah pergi, hilang tanpa tanda-tanda. Saya? Masih terpaku. Tapi tak dibiarkan lama karena lampu merah sudah berganti hijau.

Peristiwa itu mempengaruhi sepanjang hari. Bak sebuah mimpi, saya tak berhenti memikirkan skenario itu. Saya pun jadi ingin tahu; meng-googling-nya di peramban dan tak satu pun saya menemukan arti dari tingkah laku burung gereja. Saya masih ingat, bahasa tubuhnya seolah berbicara fasih. Matanya seperti mengadu kontak membalas senyuman saya kala itu. Satu adegan langka yang membawa hari saya penuh syukur dan positif. Apapun rahasia yang tersimpan di belakang kejadian itu, saya percaya hal itu adalah baik dan saya menghabiskan hari dengan baik.

Malamnya, setiba di rumah, seorang sahabat mengirim pesan pendek. Kalimatnya yang singkat itu berisikan sebuah kabar duka cita. Bahwa tadi pagi, ayah dari suami teman dekat kami telah berpulang karena mengalami serangan jantung mendadak. Saya pun langsung menghubungi teman dekat yang sedang kehilangan. Dari seluruh cerita yang ia bagi, berkahnya, almarhum "pergi" sesaat hendak menunaikan shalat subuh dan berakhir dengan senyum. indahnya.

Setelah membaca cerita ini, saya tak tahu apa yang ada dalam pikiran Anda. Anda bebas menginterpretasikan segala sesuatu tentang pertemuan saya dengan si burung gereja. Apapun itu menurut Anda, saya tak pandai mengungkapkannya. Saya hanya bisa berbagi dan yakin sedikit banyak kisah ini memiliki manfaat bagi kehidupan. Tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Bagi saya, setiap detik, setiap menit dalam satu hari sungguh berharga untuk dieksplor. Take your lesson from where you want to start.

Happy day, everyone,
-m