Sunday, 21 April 2013

Great Minds: Kartini Kita


Today's special
____________
 

Great mind: Bukan Sekadar Habis Gelap Terbitlah Terang. Layaknya Perempuan Biasa, Begitulah Kartini Adanya.

Tentu tak asing di pikiran kita ketika mata membaca kutipan paling dikagumi kepunyaan Raden Adjeng Kartini. Namun, serapan kalimat yang diolah ke dalam satu bacaan bertitel sama, ternyata bukanlah satu buku yang “mengajarkan kemerdekaan” di masa dewasa. Begitu pendapat Pramoedya Ananta Toer dalam kumpulan tulisannya; Panggil Aku Kartini Saja. Setelah ditelaah Pram dengan baik, cetakan ke-3 Habis Gelap Terbitlah Terang tahun 1951 oleh Armijn Pane ini, ternyata, menonjolkan buah pikir Kartini sebagai perempuan nyata atas perasaannya dalam berjuang. Tepatnya, kumpulan sederet kisat curahan hati serta gagasan dari 106 pucuk surat Kartini dalam Door Duisternis tot Licht.
“Isinya lebih banyak mengenai ratap-tangis serta manifestasi keputusasaan dan kehilangan akal Kartini, malahan juga ketergantungannya pada Belanda,” tulis Pram. Dilihat dari sejumlah tulisan Kartini, ia memiliki gaya bahasa bebas, kadang menantang, namun—tetap—tidak meninggalkan batas dan kesopanan. Bagi Pram, imbangan moral ini menjadi ciri khas isi pikiran Kartini. “Benar sekali bahwa pada saat-saat tertentu semangatnya merosot, putus asa, dan hilang akal, bahkan menangis tersedan-sedan—dan ia tidak malu punya air mata—tetapi sudahlah biasa terjadi dalam perjuangan, apalagi perlawanan tunggal, berjuang hendak menimbulkan situasi baru,” jelasnya. Dan sebagai perempuan penuh semangat seperti kita pun sesekali (sangat boleh) “merendah”, bukan berarti kegagalan sejati. Senyum.

Selamat Hari Kartini Para Perempuan Indonesia.
"Teduh mata, menghias kata, menghasilkan karya."

Published in MORE Magazine
Desember 2010

Monday, 31 December 2012

Riot of Thought

We may feel about to make a terrible mistake with regard to a certain situation. But at the back of our mind, we also feel that it has more to offer than is currently noticeable. Despite the differences of opinion between thoughts, we should set the mind that this is probably a strong connection that will grow even stronger if given half a chance.

Monday, 12 November 2012

OLD BUT NOT AGING

I think that doesn’t mean you old you can’t adjust and blended it.

Old is a new sexy statements. Old means you know more. And old is like a new fragrance for each community.

It’s an act to spread the word. It’s a mirror of positivity. Talks quality.

Be proud for what you have achieve.

Last, I’ve done my debate, so how old are you? Cause aging means you closed your eyes, ears, hearts and the beautiful side of your mind. So don't be.



-m

5 RULES HOW TO BREAK THE DISTANCES

As a human, we tend to guard ourselves and be the guardian itself. As I always open my eyes, ears, and hearts to alert things, here are 5 rules of mine to assure me that the distance is no longer exist.

1. Action is required.

2. It's not the usual kind where you move your lips and words tumble out of their own accord.

3. But the kind of action that shows that you genuinely do care about their needs and welfare.

4. Life is a bitch. Life is tired of the promises, and would now like to see some concrete and tangible manifestation of the purity.

5. Now, analyze this: Can you rise to the occasion?



-m

Thursday, 1 November 2012

KERTAS DALAM PERSPEKTIF

Mengapa sebuah buku membutuhkan halaman judul? Dan mengapa harus mengulang apa yang sudah ada pada sampul?

Sebuah buku harus memiliki halaman judul dikatakan untuk alasan sejarah dan masalah hak cipta.

Jika saja halaman judul dihapus dari setiap buku yang diterbitkan.

Maka di Amerika Serikat saja, para penerbitnya bisa menghemat 3,1 milliar halaman kertas dalam setahun. Coba bayangkan jika penghematan kertas ini dilakukan di Indonesia?

Perspektif saya, jika saya tidak bisa mengubah dunia, maka baiknya saya mengubah diri saja.

Meski di rumah memiliki mesin printer bersama, saya dan kakak berusaha untuk tidak membuang sia-sia sekumpulan kertas bekas. Kadang, saya cukup berterimakasih dengan sifat; suka mengumpulkan "sampah" yang idenya berawal dari "Sayang, ah, kalau dibuang".

Sekarang saya dan kakak mengumpulkan kembali si "sampah kertas" dan menatanya ke dalam boks bertulis "saya bekas, print saya!" Boks ini diperlakukan secara baik, dihias layaknya benda penting.

Nyatanya, seikat "sampah kertas" yang sekilas tidak dibutuhkan ini berubah menjadi setumpuk lembaran berharga. Hal ini, paling tidak, selain meningkatkan keakraban diantara saya dan kakak, sikap menghemat kertas ini juga menumbuhkan kesenangan. Menyenangkan.

-m

Saturday, 27 October 2012

SELINGAN RINGAN (part 1)

Dua teman mengadu cakap dalam percakapan.

Kakay: Serius! Kalau mereka ingin bertemu kamu.

Kikay: Ah, aku tidak percaya.

Kakay: Loh? Aku tidak bohong, kok!

Kikay: Aku, kan, hanya bilang "tidak percaya". Yang bilang kamu bohong, siapa?

Kakay: Apa bedanya?

Kikay: Jelas beda! Sama saja seperti kamu mengatakan; 'Laki-laki itu gagah', dan aku tidak percaya. Bukan berarti kamu bohong, kan?

Kakay: Kalau begitu, artinya 'masalah persepsi'.

Kikay: Tepat sekali! Kamu bisa mengatakan mereka ingin bertemu aku. Itu kan persepsi kamu. Apa betul mereka mengatakan demikian? 'Ingin bertemu aku?'.

Kakay: Tidak, sih...

Kikay: Nada 'sih'-mu seperti ada keraguan.

Kakay: Iya, sih...

Kikay: Nah...!



-m


Monday, 22 October 2012

SUMMARY: TINKER, TAILOR, TRY

Not many things work perfectly the first time--new product development is a labyrinth of wrong routes and dead ends.

And, yes! Ideas need noodling and tinkering and fiddling to become workable.

So, let's move to nurture the good idea. Spend a little, not a lot.

Tinker with the concept. And then, tailor it to better fill the needs of the target audience.

And most importantly, try something. Try this, try that. Do: something make an ad concept, build a prototype, give out samples.

Then tinker some more, tailor it a bit, and try again.

But (let say) If it's a bad idea, what will be happen? (well) you'll know it. Drop it. If it's a good idea, you'll now be able to sell it to the corporation.

(keep this your number one highlighted) Note to self: Don't talk, don't have meetings, don't write memos. Before you get know whether it's a bad or it's a good idea. You will know.

-m

Wednesday, 17 October 2012

TOUCH DOWN: EKSOTIKA PULAU MUTIARA

Harum biru laut mengelilingi ke mana pun tapak kaki melangkah. Meraba cantik nuansa tenang pulau Pinang, ditemani atmosfer sejarah yang tak pernah hilang. 


BERVAKANSI KE SATU NEGERI di pantai Barat Laut seme­ nanjung Malaya, benar, terasa hangat. Dari Ja­karta, ke tempat ini hanya membutuhkan waktu 2,5 jam lewat jalur udara. Hingga sekarang, masih Air Asia—satu-­satunya—yang menawarkan jad­wal terbang langsung dari Jakarta menuju Penang. Bukan sebuah berita bila warga penjuru du­nia sering singgah ke Penang, demi kepentingan mendapat medical treatment terbaik. Sederet ru­mah sakit dengan teknologi terkini, para dokter dan profesor terkemuka, pelayanan bersahabat, serta ekonomis? Semua tersedia. Mereka hadir untuk menjawab “kekhawatiran” bagi mereka yang membutuhkan sehat. Menjadikan pulau ini sebagai tempat “penyembuhan” ideal, termasuk bagi masyarakat Indonesia. 

Kita mengenalnya dengan sebutan Pulau Pi­nang atau Penang dan dalam bahasa Melayu lama disebut: Isle of the Betel Nut. Penduduk setempat mengakui; Pulang Pinang Pulau Mutiara, karena kelembutan warna laut dan pasir putihnya yang mendandani pantai. Namun, bagi saya, tidak hanya kemajuan dunia medisnya yang menjadi alasan untuk bertandang. Tempat ini adalah saksi sejarah yang teramat utuh. Rasanya, tak ada yang lebih indah selain menyaksikan bangunan­-bangunan otentik nan kokoh ­­telah berdiri sejak 1700­ an. Inilah wajah asli Penang. Pemerintah setempat melarang keras penduduk lokal untuk mengubah konstruksinya. Meskipun demikian, warga diper­silakan mengecat ulang warna­-warna dinding yang mulai pudar, membetulkan jendela maupun pintu agar kuat kembali atau membenarkan pon­dasi yang tentu saja sudah rapuh. 

Lebih dari satu abad, kolonial Inggris me­nguasai negeri ini hingga tahun 1957. Jadi, bisa dibayangkan gedung­-gedung tinggi menjulang ala British memenuhi pandangan mata saya ketika itu. Salah satunya tampak jelas di daerah terpopuler, tertua, sekaligus Ibu Kota negeri Pulau Pinang, Georgetown. Dahulu, kota ini pernah dipimpin oleh seorang raja muda Ing­gris bernama Raja George III. Titel Georgetown, dihadiahkan sebagai bentuk penghormatan terhadapnya. Bisa dibilang, nyawa sejarah dan hiruk pikuk politik ada di sana. Gedung­-ge­dung berumur ratusan tahun masih tertata rapi menghiasi sudut kota. Be­cak­-becak klasik melaju riang, siap mengantar “tuan” bepergian. Bagi kita yang jatuh cinta pada budaya Cina dan India, hasrat tersimpan ini akan cukup terpuaskan dengan menemukan ba­nyak candi-­candi peribadatan yang sa­ngat terkenal lewat ukiran­-ukiran pe­nuh cerita di setiap dindingnya. 

Cerita murni keluarga Cina Nyonya Baba pada abad 19, melengkapi ruang nyata akan warisan-­warisan leluhur pada masa itu. Di kota Penang, para kaum elit, seperti Ratu Elizabeth II pernah tertulis sebagai penduduk setia semasa usia 31. Itulah sebab, Penang dijadikan kota federasi pertama dari Malaysia (setelah Singapura) sebagai jantung kota yang sibuk. Aktif dan se­mangat hingga sekarang. Berkat pesona arsitektur dan kisah abadi tersebut, UNESCO mengukuhkan Georgetown ke dalam World Heritage Site pada ta­hun 2008. Semenjak itulah, gedung­-gedung tinggi nan megah dilarang keras memadati kawasan ini. Saya dibuat takjub akan ketegasan mereka. 


BAYANGKAN SEBUAH TELAGA RAKSASA. Menye­ruak di balik kedamaian suasana yang seksi. Begitulah perasaan saya ketika tiba—bersama sejumlah kolega dekat—di Penang International Airport yang terletak di Bayan Lepas. Ke mana pun kaki saya melangkah, pemandangan laut selalu terbentang indah menye­limuti area seluas 10.463 km persegi ini. Lewat sedikit penggalian internet tentang Pulau Pinang—sebelumnya— membawa saya pada ilustrasi negeri khayangan. Indah. Benar­-benar bak mutiara di tengah laut. 

Persis seper­ti imajinasi saya, dalam perjalanan menuju hotel, terlihat samar Penang Bridge yang berdiri tegap di atas laut. Jembatan yang dibangun sejak 1985 tersebut menghubungkan Pulau Pinang dengan mainland—sebutan un­tuk negara bagian Malaysia lainnya. Ia memiliki tiga jalur sepanjang 13,5 kilo­ meter yang ditopang dua pondasi kuat. Melihatnya, mata seperti tak ingin lepas memandang, kepala pun—seiring kendaraan bergerak—ikut berputar tak beralih. Inilah jembatan terpanjang di Asia dan saya sedang menatapnya.

Memasuki setengah perjalanan, tertulis besar­-besar “Dua kilometer menuju Hard Rock Hotel Penang” pa­da sebuah baliho besar di pinggir jalan. Senang! Karena artinya kami akan segera ti­ba di salah satu tempat penginapan terbaik di sana. Tapi, sesampai di sana, saya dan beberapa teman, tak ingin berlama-­lama lagi. Segera kami meluncur menjawab rasa penasaran lainnya tentang negeri Penang. 

Se­lanjutnya, kami dibuat terpana mene­lusuri kawasan Air Itam, di mana satu tatanan kota menjelma di baliknya. Di sana, kuil Budha terbesar se­Asia Tenggara, Kek Lok Si Temple, sejak 1890 masih teronggok mantap dengan megahnya. Hari belumlah malam, saat kaki ini dengan manisnya menapak santai, hingga ke lantai atas. Saya dapat melihat jelas seluruh isi kota Air Itam dari puncak sana. Sejuk, awan-­awan putih menari pelan memamerkan ke­damaian. Pada Tahun Baru Cina, kuil ini akan dipenuhi oleh ribuan cahaya, menjelma menjadi tempat yang amat menyenangkan di mana ribuan orang bersembahyang di bawahnya. 

SAMBIL MENUNGGU SORE yang semakin menghampiri, di sini, di Air Itam, ber­naung melegenda sebuah gedung pen­didikan terkenal dari Cina: Chung Ling High School. Saya sempat mendengar sekolah hebat tersebut dari seorang teman yang bekerja di Penang Global Tourism. Berkali­-kali ia mengatakan Sekolah Menengah yang digagas pada 1917 ini, dideklarasikan sebagai seko­lah terbaik di Negara Malaysia. Hanya siswa dengan nilai A sempurna yang boleh mendaftar. Program studi pra­ universitas telah menjadi salah satu pelajaran andal milik Chung Ling. Kursus ini dimulai pertama kali pada 16 Januari 1967 dan hanya ada lima perempuan yang berhasil diterima dari total 36 siswa yang didaftarkan.

Dengan berlakunya kebijakan 60­ 40 oleh pemerintah setempat, men­dorong lebih dari 90% siswa agar mendalami studi Science Stream- ing daripada Art Streaming. Sosok­-sosok mendunia seperti Khaw Boon Wan, Menteri Kesehatan Singapura dan Ming Tatt Cheah, immunologist terkemuka di Universitas Standford, California, lahir dari sekolah ini. Pada 1942, sekolah tersebut sempat mengalami renovasi berulang kali, akibat gemparnya Perang Dunia II, saat di mana Negeri Penang jatuh ke tangan Jepang. Kala itu, operasi Sook Ching— pembantaian massal—dengan biadab menyiksa 10 guru lokal dan lebih dari 40 siswa menjadi korban kebrutalan mereka. Tragis, namun mereka bangkit segera, sesaat setelah Inggris meng­ambil alih kekuasaan—kembali—tahun 1945. Seiring proses waktu berjalan, Chung Ling tumbuh menjalankan visi dan misi mulia seperti semula. Mem­perbaiki konstruksi gedung dan resmi “utuh” pada tahun 2002.

 Kenyang akan mendengar kisah­ kisah nyata di belakang Sekolah Mene­ngah Chung Ling, tak terasa, perut ko­song saya mulai “berteriak”. Kami pun bertanya-­tanya makanan khas kota Air Itam apa yang terkenal? Jawabannya Laksa, maka­nan berjenis mi yang dihiasi bumbu kental ala budaya Peranakan; gabung­an antara suku Tionghoa dan Melayu. Meskipun, termasuk makanan mem­bumi asal Pulau Pinang. Namun, se­mangkuk laksa di persimpangan jalan Kek Lok Si Temple berada, menawar­kan rasa ‘berbeda’ dari laksa lain­nya. Bentuk mi yang bulat putih dan sedikit tebal, memanjakan lidah lewat siraman dua variasi rasa berbeda: asam sangat tajam atau dimasak menggu­nakan banyak susu kelapa. Ketika ma­tahari hampir tenggelam, aroma kuah laksa yang kuat dapat membangkitkan semangat kembali berkibar. ”Mari me­lanjutkan “penggalian”!” seru saya ke­ pada seorang teman seperjalanan.  

PENGHUNI TETAP NEGERI INI merupakan cam­puran unik dari darah Cina, Melayu, India, dan Siamese. Dari situ, garis budaya pun melebur beragam men­jadi komunitas Peranakan. Kelompok pertumbuhan yang terkenal hingga se­karang terbagi menjadi; Nyonya Baba— orang Melayu lebih suka menyebutnya demikian dibandingkan panggilan Ba­ba Nyonya—Jawi Peranakan (Melayu muslim yang menikah dengan India atau suku Cina, lalu men­ jadi muslim), dan Eurasians (perpaduan Eropa dan Asia). Menghadirkan kesemarakan yang tentu menurun ke wisa­ta kuliner dengan aneka rasa bak urutan alphabet. Dari A hingga Z, berbaur lezat ma­cam-macam aroma Asia. Sedikit asam, kadang manis mengejutkan, dan yang ter­ penting otentik.


Tak puas hanya laksa, kami pun berpindah menuju tempat makan sebenarnya. Udara sejuk malam di Pusat Penjaja Anjung Gurney (dekat Plaza Gurney berlokasi), membangkitkan selera kami untuk sekali lagi mengu­nyah menikmati makanan khas Per­anakan yang menggelitik rasa lapar saat itu. Pasembur, sekilas tampak mirip dengan rujak. Di Penang, pasem­bur dikenal sebagai adonan yang da­tang dari “tangan” suku India. Berisi bermacam adonan gorengan, dadih kacang, kentang yang direbus, udang goreng, telur rebus, tauge, cumi­-cumi, dan mentimun. Saya pun langsung me­motret wujudnya dengan cepat, meng­abadikan agar bisa dipamerkan sepu­lang ke tanah air nanti. Wisata kuliner yang satu ini memang sejenis makanan “aduk­aduk” nan gurih. Dibalur cam­puran saus kacang pedas dan manis, mengubahnya menjadi warna cokelat pekat yang sangat menggugah selera. Di sinilah letak citra rasa warna­-warni sajian Pulau Pinang yang “aneh”. Sung­guh hidangan ringan asyik untuk dici­cipi beramai­-ramai. Benar, rasa asam dan manis pun menyatu. Lucu sekali.

Siapa yang tidak tergoda, menik­mati wangi laut, sambil menyantap makanan klasik tanpa pertimbangan? Sepuas menyelesaikan sisa pekerjaan tertunda, sepuas itu pula jiwa raga kami menghabiskan malam seusai mengisi penuh kekosongan perut. Bincang­ bincang renyah di antara kami pun tak berkesudahan. Sembari menanti malam melarut, kami menunggu kan­tuk di tepi pantai. Hingga waktu tiba mengembalikan kami ke tempat tidur yang didambakan. Memasuki ruangmimpi sambil tersenyum, karena pe­ngalaman—setengah perjalanan—Ne­geri Penang yang begitu berkesan.

Mengenal dan membiarkan diri terbasuh budaya lebih dekat, seperti mengalami pengetahuan yang tak ter­bayarkan nikmatnya. Saya haus akan silsilah yang tersimpan di balik Asia. Membuatnya begitu “langka” dan tak kalah tanding, jika disejajarkan dengan negara­negara Barat. Apa yang lebih in­dah, selain berkumpul bersama orang terdekat, menyaksikan dan merasakan momen­momen “romantis” ala kita? Singgah ke Pulau Pinang, merupakan piknik surgawi yang menjunjung tinggi ketenangan dan orisinalitas. Ingin me­lakukan perjalanan singkat dan memu­tuskan mengambil penerbangan paling pagi dan kembali di malam hari? Sa­ngat bisa dilakukan! Ambil waktu libur untuk menimba semangat dan meng­apresiasi hidup lebih dalam lagi. 

____________
This article was published in More Indonesia magazine, February 2011.
Writer: Miranti Sudrajat
Art Director: Astri Lusiana
Photo: Dok. More Indonesia

















































Enjoy,
-m

BERBAGI CERITA DI DAILYSYLVIA.COM, YOUR NEW E-MAGAZINE, YOUR CUP OF JOY!


Garage Sale yang saya kerjakan sejak tahun 2008, tampaknya membuat sejumlah orang tertarik. Salah satunya dailysylvia.com. E-magazine yang terbilang baru ini, melirik saya di satu sore dan bertanya apakah saya bersedia berbagi cerita seputar hobi sekaligus mata pencaharian yang menyenangkan ini. Setelah menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh sang penulis, inilah artikel mereka tentang kegiatan itu. Terima kasih dailysylvia.com.

Selamat membaca.























































































Temukan berbagai berita, artikel, atau catatan inspirasi lainnnya di dailysylvia.com.

Enjoy your day!
-m

Wednesday, 3 October 2012

PHOTOSHOOT: THIS IS WHAT YOU NEED TO KNOW

























Untuk melakukan sebuah photoshoot setidaknya Anda membutuhkan tim yang mengerti dengan peran masing-masing; writer, art director, photographer, dan kru.

Sebagai writer sekaligus pemilik artikel food berjumlah delapan halaman spread ini (for instance), harus datang dengan tema yang besar. Baru setelah itu 'memperkecilnya' ke dalam pointer yang menunjang tema secara keseluruhan. Di sesi proyek photoshoot terakhir semasa saya masih bekerja sebagai Feature Writer di More Indonesia magazine, edisi Mei 2012, saya berangkat dari tema "Healthy Breakfast" yang kemudian di approved menjadi sebuah tema besar yang dikemas secara unik. Saya menyertakan satu buah lagu ke dalam tiap-tiap menu breakfast. Cara baru menyantap makanan pagi Anda. Menyantap sambil mendengarkan musik.

Sebelum mengeksekusi konsep. Bumbu mentah yang terdiri dari hanya tema ini kemudian dikembangkan melalui mind mapping. Mind mapping merupakan cara kreatif yang biasa dilakukan oleh copywriter untuk mengembangkan ide dan menemukan kata-kata tersembunyi di balik tema besar. Once you satisfied, you will stopped.

Saya lalu muncul dengan negara Prancis, yang banyak membuahkan asumsi bahwa negara ini menyimpan 1001 resep sehat. Kira-kira resto bergaya Prancis mana yang bisa saya ajak kerjasama untuk melakukan photoshoot ini di Jakarta? Madeleine Bistro milik Eileen Rachman memenuhi semua kriteria yang kami butuhkan; menu dan atmosfer.

Selanjutnya, set jadwal lokasi, chef, dan menu pilihan. Untuk mewujudkan itu semua, Anda cukup menghubungi Public Relation atau orang marketing dari resto tersebut. Jika perlu, datang dan berkunjunglah ke lokasi. Seperti yang saya lakukan untuk mengecek layout tempat dan memilih langsung sejumlah menu sarapan pagi yang sehat ala Prancis. Anda juga bisa berdiskusi dengan PR dan minta rekomendasinya untuk memmbantu memilihkan menu best seller. Take the note: stick with the concept.

Photoshoot ini dieksekusi ke dalam 8 halaman spread. Artinya 1 halaman opener (pengantar penulis berserta foto), 5 halaman berisi 5 menu, dan 2 halaman terakhir untuk daftar resep dan cara membuat. Gunakan bahasa dan cara penyampaian yang mudah dimengerti oleh pembaca Anda.

Saya terbiasa membuat sketsa kemudian menyiapkan mood board, sebelum akhirnya berdiskusi dengan art director. Saya menggambar 8 halaman spread dengan pensil dan menentukan secara rough (kasar) mengenai tata letak artikel secara menyeluruh, termasuk jumlah tulisan, letak foto, letak judul BEsar-kecil foto, dan keterangan. Sertakan referensi artikel serupa sebagai bayangan diskusi. Seorang art akan merasa lebih mudah jika diberi sisipan visual.

Untuk mood board, saya cukup mengumpulkan 10-15 foto makanan yang diambil dari berbagai sumber. Ini akan mempermudah pekerjaan photographer dalam pengambilan gambar. Mood Board artinya menyampaikan mood dan tone color dari pengambilan foto; termasuk warna lighting, angle, dan layout.

Dalam proses pematangan konsep, art director akan memberi pandangan-pandangan visualnya yang kadang tidak bisa dijangkau oleh seorang penulis. Inilah mengapa kerjasama tim sangat dibutuhkan di awal. Selanjutnya, writer dan art director berdiskusi dengan photographer tentang konsep yang sudah lengkap. Sudah menjadi peran photographer untuk merealisasikan kebutuhan artikel sesuai konsep. Tentu dengan dengan berbagai masukan dan improvisasi darinya.

Sebelum pemotretan, saya akan menyiapkan sejumlah kebutuhan foto. Dalam hal ini; peralatan makan dan alat-alat penunjang untuk properti foto. Seperti piring dan mangkuk dalam berbagai model dan ukuran, serbet dan taplak beragam warna, serta talenan kayu yang stylish. Saya juga berbelanja bumbu-bumbu masak. Kembali ke konsep. Sarapan pagi sangat erat dengan telur, roti, susu, sayur, dan keju, sehingga, daftar seperti inilah yang akan membantu foto-foto Anda semakin berwarna dan mencapai konsep utama. Sekaligus bisa menjadi 'bahan' satu halaman opener yang Anda butuhkan. Jika 'sedikit' bingung, cukup intip isi resep dari menu makanan yang akan dipotret. Take the note: remember to always refers to the big theme.

Properti foto merupakan elemen penting yang harus dipikirkan setelah Anda membentuk konsep. Saya terbiasa dengan "tidak mengandalkan satu sisi saja", artinya, meski (mungkin) Madeleine Bistro sudah memiliki dan menyediakan semua kebutuhan, sebisa mungkin saya menyiapkan sendiri. Dengan begitu saya tidak merasa kekurangan saat perlu 'penghias' tambahan.

Terakhir, berkerjasamalah! At the end of the day, this article not made by yourself, but made by a team. A good teamwork! Setiap profesi memiliki peran masing-masing, but as a writer you have a capability to deliver the whole thought, the whole concept and make it real! And Here I share you the eight spread-food article that I told. Let's hear from your side!

Published in More Indonesia magazine, May 2012, Healthy Breakfast on "Rise & Shine".
Writer: Miranti Sudrajat
Art Director: Astri Lusiana
Photographer: Rynol Sarmond
Total pages: 8 Pages










-m

Saturday, 12 May 2012

DAN TATKALA KELAM PUN MASIH MEMBAYANG... #12Mei98

#CeritaMalam

12 Mei 1998. Tepatnya 14 tahun lalu. Meski ketika itu saya hanya bisa menyaksikan tragedi Trisakti dari layar kaca rumah yang terpenjara, tapi dapat dipastikan saya bisa mengingat semua kebobrokannya. Saya masih begitu kecil untuk berwara wiri di luar. Yang saya ingat, mata saya terbelalak melihat sekumpulan mahasiswa bergerombol, berlarian ke sana ke mari. Pontang panting. Morat marit. Tak karuan! Yang saya ingat, jantung rasanya berdetak kencang tak beraturan. Meski jujur, ketika itu saya tidak tahu dengan apa yang sebenarnya telah terjadi.
Oh, Indonesia. Saya pikir ada apa? Ayah melarang saya ke luar rumah. Memastikan anak-anaknya untuk berada di sekitar mata. Bunyi letusan api yang dikeluarkan oleh senjata-senjata aparat. Entah, apa karena mereka "keparat". Yang jelas saya tidak suka. Saya takut mendengarnya. Saya marah. Dan saya masih begitu kecil untuk mengerti apa yang telah mereka pertontonkan kepada seluruh masyarakat Ibu Pertiwi.

Bayangan itu masih melekat erat di pucuk otak. Saya masih bisa melihat dan merasakan visual 14 tahun lalu, meski dari televisi. Yang jelas, sekarang, setiap kali mengingat, hati saya masih terluka, setiap kali terpaut, dan setiap kali terlontar, rasanya seperti geram. Saya tidak suka dengan 'aromanya'. Saya benci memupuk ingatan itu. Dan tatkala kelam pun masih membayang.


Wahai perempuan yang buah hatinya direnggut tanpa ada keadilan mengusut. Majulah tak gentar meski pagar di depan tak dapat dihajar! Bakar semua yang berkobar. Habiskan sampai tak bersisa akar!
 

-m

Friday, 27 April 2012

Care To Hands In Hands?



illustration by blogs.discovermagazine

Sejak "pergerakan perempuan" bergolak dan bermunculan pada 1700-an di Eropa - which the founding mother of Feminism - sikap 'kolosal' ini terus berlari dan mengejar pembaharuan. Semakin menguat. Selanjutnya, menjelang abad 19 feminisme lahir menjadi gerakan yang cukup mendapatkan perhatian dari para perempuan kulit putih di Eropa.

Perempuan di negara-negara penjajah Eropa memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai "keterikatan" (perempuan) universal yang hingga kini dikenal dengan istilah "universal sisterhood". And we should stick with it. Ini merupakan satu dari prinsip-prinsip dasar  "kebersamaan perempuan" bahwa kita (perempuan) baiknya saling "mendukung" dan berpegangan. Sehingga, (seharusnya) tak ada lagi alasan untuk saling curiga dan menyimpan rasa (takut) akan tersaingi atau terbebani antar kita. Landed your feet, back to the roots. Bawa kembali jiwa keterikatan dan bahu-membahu untuk saling berbagi. Agar "tali" itu tetap begitu adanya. Biarkan semakin panjang dan terus bersimpul. Jangan putuskan dengan prasangka. Woman should hands in hands. One soul, one emotion.

-Happy April, Ladies!

Sunday, 8 April 2012

Crossing The Street

image by Getty Images


I really don't understand with today-attitude of people.

While am with a bunch of friends, walking along a street to find our dinner. Yet we need to cross, the place is in the opposite of our rows. Well, anyway, our crossing's style it's actually not in a proper way to do. There is no allowing-cross sign. It's definitely false. Yet we still crossed. But I know one thing, while am crossing I need to slow down and see the both side, left and right. So whenever the green light are ready and told me to go, then I will run as fast as I can. Though the street are empty and no cars in the distance.

But, my friends, while my legs are keep running, they was like in a laid-back style, walk easy, and very slow. I swing my hand and grab his, I say "Come on, buddy, we should run." and he said "Why rush, there are no cars crossing us." At that moment, I thought is it me, act like am paranoid, or is it them who underestimate the risks? He must be crazy, then.

I against those kinda thought. I think when we try to do something that shouldn't we do, then we must be doubly careful than usual. Specially when it talks about facing dangers and someone's life. We don't want to put people in trouble for what we do. You may not only endanger yourself but also others.

-m

Saturday, 11 February 2012

Not That Bad

attitude act:

Delapan bulan perpisahan membentuk kami menjadi pribadi tangguh.
Menciptakan satu identitas baru yang berkualitas. Dan yang terpenting membuat kami belajar untuk lebih menghargai arti hidup.

Thursday, 26 January 2012

Salam dari Ujung Timur

Attitude act:

"Malam ini Jakarta riuh sendu. Hujan, baru saja turun membasahi jalanan-jalanan yang penuh sesak oleh debu. Aku pun sudah duduk tenang di rumah, menghirup secangkir teh hangat dan menikmati sebatang rokok kretek favorit. Entah apa yang membuatku tak ingin berlama-lama di luar sana. Letih, lelah, bega, dan penat. Aku hanya ingin pulang, rebah dengan tenang, lalu menyenandungkan kata sambil riang." kataku lepas.

Selamat menikmati gulita.

Tuesday, 18 October 2011

[gratitude of the day] I found it Swinging

Let's the melody swinging for you....
I just found this song, and it's reminds me to how life is beautiful. And how sweet it can be, when once you open wide, there is a time you can always gratitude. And here is the song that can make you relax and appreciate things. Thing that the small one can really make a big dream! Come, seat, smile and listen the song along with me. Then you will realize.


Till There Was You
Original song by Meredith Willson
Sing by The Beatles

There were bells on a hill
But I never heard them ringing
No I never heard them at all
Till there was you

There were birds in the sky
But I never saw them winging
No I never saw them at all
Till there was you

Then there was music and wonderful roses
They tell me in sweet fragrant meadows of dawn and dew

There was love all around
But I never heard it singing
No I never heard it at all
Till there was you

Then there was music and wonderful roses
They tell me in sweet fragrant meadows of dawn and dew

There was love all around
But I never heard it singing
No I never heard it at all
Till there was you Till there was you

--
Now, check your old collection and surprised yourself.


Happy life, everyone.
-m

Tuesday, 11 October 2011

The Point When Alert

There are so many things happening lately. It really is confusing. Things that undermine the content of the brain until I was at alert stage. Things that are damaging and potentially destroying the focal point. I will not let it happen. No one can destroy what I have painstakingly correct. I will not let people rob what I dreamed.

One can only assume, leaving the impression, judging and assume that their true self. People should know that there is a truth behind the truth. People should realize and understand the balancing of "mind". We can not always please people. And I'm learning, you win some, you lose some. And sometimes how beautiful the pros and cons of it are present in the midst of an argument.

People seem to start removing an important process - discussions. We need to discuss and review issues carefully until the results of saying "this is perfect". Until the time we closed and lay the body, we fell asleep happy, because we do a method called thinking. I guess I'll fight it right this time. There is no worse enemy than silence when discontent sets in. I'm not going to shut down and false my mouth again. We have a voice and way of thinking that deserves to be heard. All are free to have opinions. And if it's like a high wall began to collapse, I'll hold it back before it was collapsed. No one else could make me go back to thinking the worst in life. I will conduct stringent protection against heart and mind. Now is the time to go forward - looking back and looking further without stopping. Without a point.

Straight your mind.
-m

Friday, 7 October 2011

Sepenggal Kisah Anda

Anda sepenggal kisah, seandainya saja perempuan itu tak terus bicara dan bertanya "kapan Anda kembali ke kedai ini?" Saya yakin, si Anda tak akan pernah tahu apa yang dipikirkan oleh perempuan itu.
Dan saat mereka bertemu, saat Anda tetap tak tahu, itu pun akan menjadi satu adegan yang sudah cukup. Sekarang, Anda tahu, dan perempuan itu pun mulai gugup.

Selamat tersenyum...
-m

Sunday, 2 October 2011

Yummy-health

Selamat datang Oktober...

Beberapa waktu lalu, saya diundang oleh Gerakan Sayangi Jantungmu (@sayangijantung) yang sekarang ini sedang dikobar-kobarkan oleh Quaker Oat. Anda tentu pernah melihat iklan TV yang memunculkan sejumlah orang dari berbagai usia bersama tagline "saya berisiko!". Siapapun berisiko untuk menderita penyakit jantung--salah satu penyakit kronis yang jumlah penderitanya semakin meningkat. Bahkan menyerang mereka yang masih berada di usia produktif. Sayang, ya? 

Dalam serangkaian acara yang mereka gelar bertepatan dengan Hari Jantung Sedunia, Chef Winnie berbagi resep keluarga yang bukan main lezat. Winnie adalah perempuan biasa seperti kita yang punya cerita di balik resepnya. Meskipun Ayah Winnie di usia muda adalah seorang atlet PON; berolahrga dan menjalankan pola hidup sehat, namun di usia 50 dokter menyatakan bahwa laki-laki yang kini berusia 72 tahun harus menderita penyakit jantung. Awalnya, sang ayah tidak terima. Tapi pengalaman 3x operasi baypass--sudah--cukup membuatnya trauma. Dan mau tidak mau ia harus berdiet seumur hidup.

Winnie sempat bercerita, anaknya yang berumur 7 tahun sangat suka dengan makanan manis. Sementara sang kakek harus dijauhi dari menu-menu gula. Awalnya, Winnie membeli dua kulkas. Satu untuk kakek, satu lagi untuk anaknya. Tapi apa yang terjadi? Begitu tengah malam, suara kaki-kaki mengendap menyusup ke kulkas anak berumur 7 tahun. Sang kakek diam-diam mencuri makanan yang tak seharusnya ia konsumsi. Ketika mendengar itu, spontan saya tertawa lepas. Lucu. Winnie geleng-geleng. Ia memutar otak untuk bisa membuat resep yang sesuai dengan selera kedua "anak kecil" ini. Quaker Apple Cinnamon yang dibuat khusus agar ayah dan anaknya bisa menikmati makanan enak dan sehat merupakan satu dari sekian banyak menu berbahan dasar oat yang pernah Winnie ciptakan. Sekarang kita bisa mencobanya di dapur rumah. 

Saat Winnie membagikan makanan ini dalam porsi kecil kepada kami di acara itu, dengan segera saya memotret lalu mengunduhnya ke akun twitter. Seorang teman membalas dan meminta agar saya membagikan resepnya. Jadilah saya menulis di sini. Resep ini tidak hanya untuk seorang teman yang telah meminta langsung di twitter, tapi untuk Anda semua yang ingin merasakan serunya menjalani hidup sehat, atau mungkin sesuatu yang baru. Tidak ada bahan-bahan manis dalam pembuatannya. Yang ada hanya aroma kayu manis yang Anda masukan bersama oat dan apel. Rasa manis itu sendiri secara natural akan datang dari si buah apel. Ini karena oat tidak memiliki rasa. Sehingga oat akan mengikuti bahan lain yang dicampur bersamanya. Cita rasa apel dengan bahan dasar oat berpadu aroma kayu manis? oh, ini sangat menggoda. Yummy. Selamat memasak!

/ Food for Your Heart /

Quaker Apple Cinnamon 
Bahan:
75 gr Quaker Instant Oatmeal
600 ml air
½ sdm mentega (unsalted)
2 batang kayu manis
2 buah apel fuji atau apel merah (potong dadu kecil bersama kulitnya)

Cara membuat:
1. Oleskan mentega pada lapisan dasar panci.
2. Masukan Quaker Instant Oatmeal dalam panci bersama air (api tidak terlalu besar). Aduk rata.
3. Tambahkan apel-apel dadu dan kayu manis. Aduk rata.
4. Masak hingga aromanya mulai terasa.
5. Sajikan selagi hangat untuk dua orang.



Happy eating, everyone. Enjoy your moment.
-m

Quaker Apple Cinnamon (porsi kecil)